Hidup di Ruang Antara: Membaca Sekolah Adat Arus Kualan melalui Lensa Empire dan Multitude
DOI:
https://doi.org/10.24071/ret.v14i1.681Keywords:
Sekolah Adat Arus Kualan, empire, multitude, pengetahuan lokal, Masyarakat Dayak SimpakngAbstract
Penelitian ini berangkat dari kegelisahan identitas dan kegelisahan kolektif masyarakat Dayak Simpakng terhadap rapuhnya pengetahuan ekologis, spiritual, dan kultural mereka akibat ekspansi pembangunan, logika kapitalisme ekstraktif, serta dominasi pendidikan formal melalui standardisasi cara belajar. Dalam konteks tersebut, Sekolah Adat Arus Kualan (SAAK) lahir sebagai respons komunitas untuk memulihkan relasi pengetahuan dan menegosiasikan posisi mereka dalam arus kekuasaan modern. Tujuan penelitian ini ialah menelusuri pendirian SAAK, menarasikan praktik dan relasi yang membentuk kehidupan belajar di dalamnya, serta menganalisis dinamika kekuasaan dan bentuk-bentuk resistensi komunitas menggunakan kerangka teori empire dan multitude. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi nonpartisipan, wawancara mendalam, serta analisis dokumen komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SAAK berfungsi sebagai ruang hibrid, di mana komunitas mengelola ketegangan antara pengetahuan adat dan standar pendidikan formal modern. Praktik belajar berbasis relasi ekologis, pengalaman tubuh, dan etika kebersamaan menunjukkan produksi kehidupan yang selaras dengan potensi multitude. Kesimpulannya, SAAK tidak sepenuhnya terbebas dari logika empire—yang tampak melalui keterkaitannya pada jaringan LSM/NGO, kebutuhan legitimasi dari negara, dan keterlibatan dalam skema administrasi dan pengakuan formal. SAAK juga memperlihatkan potensi multitude melalui praktik-praktik merawat pengetahuan lokal, memperkuat agensi komunitas, dan membuka kemungkinan politik alternatif bagi keberlanjutan identitas dan kosmologi masyarakat Dayak Simpakng di tengah tekanan modernitas.
Downloads
References
Arizona, Yance, dan Erasmus Cahyadi. “Indigenous Peoples and the Quest for Citizenship Rights in Indonesia.” Dalam Adat and Indigeneity in Indonesia: Culture and Entitlements between Heteronomy and Self-Ascription, disunting oleh Brigitta Hauser-Schäublin, 51–62. Göttingen: Universitätsverlag Göttingen, 2013.
Bhabha, Homi K. The Location of Culture. London: Routledge, 1994.
Bowen, John R. Islam, Law, and Equality in Indonesia: An Ethnography of Public Reasoning. Cambridge: Cambridge University Press, 2003.
Fasseur, Cornelis. “Colonial Dilemma: Van Vollenhoven and the Struggle between Adat Law and Western Law in Indonesia.” Dalam The Revival of Tradition in Indonesian Politics, disunting oleh Jamie S. Davidson dan David Henley, 50–64. London: Routledge, 2007.
Foucault, Michel. Discipline and Punish: The Birth of the Prison. New York: Vintage Books, 1977.
———. Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings, 1972–1977. New York: Pantheon Books, 1980.
Hardt, Michael, dan Antonio Negri. Empire. Cambridge, MA: Harvard University Press, 2003.
———. Multitude: War and Democracy in the Age of Empire. New York: Penguin Books, 2005.
Hauser-Schäublin, Brigitta, ed. Adat and Indigeneity in Indonesia: Culture and Entitlements between Heteronomy and Self-Ascription. Göttingen: Universitätsverlag Göttingen, 2013.
Iskandar, A. M., Theodorus Fied Herlando, dan Eddy Thamrin. “Kajian Peranan Hukum Adat dalam Pengelolaan dan Perlindungan Hutan pada Masyarakat Adat Dayak Uud Danum Desa Deme Kecamatan Ambalau.” Jurnal Hutan Lestari 10, no. 1 (2022): 105–116.
Lemke, Thomas. Biopolitics: An Advanced Introduction. Rev. ed. New York: New York University Press, 2019.
Li, Tania Murray. “What Is Land? Assembling a Resource for Global Investment.” Transactions of the Institute of British Geographers 39, no. 4 (2014): 589–602.
Loomba, Ania. Colonialism/Postcolonialism. 3rd ed. London: Routledge, 2015.
Maunati, Yekti. Identitas Dayak: Komodifikasi dan Politik Kebudayaan. Yogyakarta: LKiS, 2004.
Pongkot, Herkulanus. “Artikulasi Kolektif Masyarakat Dayak Melawan PT Ledo Lestari.” Thesis magister, Universitas Sanata Dharma, 2015.
Sangaji, Arianto. “The Masyarakat Adat Movement in Indonesia: A Critical Insider’s View.” Dalam The Revival of Tradition in Indonesian Politics, disunting oleh Jamie S. Davidson dan David Henley, 319–336. London: Routledge, 2007.
Spivak, Gayatri Chakravorty. “Can the Subaltern Speak?” Dalam Marxism and the Interpretation of Culture, disunting oleh Cary Nelson dan Lawrence Grossberg, 271–313. Urbana: University of Illinois Press, 1988.
Tilaar, H. A. R. Kaleidoskop Pendidikan Nasional: Kumpulan Karangan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2012.
Yogaswara, Herry. Sekolah Adat dan Pendidikan Non-Formal: Studi Kebijakan Kemendikbud. Jakarta: Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2018.
Yulia, Andi. “Adat dan Kebiasaan: Perspektif Etimologis dan Historis Nusantara.” Jurnal Ilmu Budaya 3, no. 1 (2016): 15–27.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Bernarda Prihartanti (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.


