Sebuah Tempat Bernama Alfaz: Memori Kolektif Masa Kecil Penyintas Bencana Lumpur Lapindo
DOI:
https://doi.org/10.24071/ret.v14i1.628Keywords:
masa kecil, memori kolektif, postmemory, lumpur LapindoAbstract
Tulisan ini secara garis besar berusaha melihat secara dalam praktik mengingat para penyintas lumpur lapindo pasca pindah dari desa asalnya. Mengambil fokus pada arek-arek Alfaz, kelompok penyintas bencana lumpur Lapindo dan ingatan masa kecil mereka tentang kampung asal—Desa Besuki Timur—yang dulu terpaksa ditinggalkan akibat terdampak bencana. Lebih jauh lagi, tulisan ini bermaksud melihat bagaimana cara mereka mengenang masa lalu dan kaitannya dengan proses hidup di masa kini. Kepingan-kepingan ingatan dikumpulkan melalui wawancara langsung terhadap enam partisipan dan kemudian dianalisis menggunakan pisau memori koleltif Halbwachs. Hasil analisis menunjukkan, meskipun menjadi bagian dari kelompok penyintas lumpur Lapindo yang lebih besar, arek-arek Alfaz memiliki kekhasan dalam praktik memori mereka. Pengalaman saat di Sanggar Alfaz menjadi memori kolektif tentang kampung halaman serta bencana yang menghancurkannya. Memori terkait Sanggar Alfaz dan Besuki Timur lebih kuat ketimbang memori tentang bencana yang terjadi. Selain itu, Sanggar Alfaz juga menjadi ruang dimana ingatan-ingatan tentang kampung Besuki Timur diwariskan dan dikonstruksikan oleh generasi terdahulu.
Downloads
References
Akmaliah, Wahyudi. “Breaking the Silence: Articulating the Memories of the Tanjung Priok Victims.” Journal of Indonesian Social Sciences and Humanities (JISSH) 5, no. 1 (2015): 1–10.
Amiruddin, Lutfi, dan Titi Fitriana. “Pemberdayaan Perempuan Penyintas Bencana Lumpur Lapindo melalui Kelompok Belajar Ar Rahmah.” Makalah dipresentasikan pada Seminar Nasional & Pertemuan Peneliti (Senapati 2015), Badung, 17–18 September, 2015.
Abdillah, Autar. “Bonum Commune dalam Cara Hidup Masyarakat Jawa: Hibriditas Pertemuan Budaya Jawa Arek.” Arete: Jurnal Filsafat 8, no. 2 (2019): 110–19.
Budiawan. Mematahkan Pewarisan Ingatan: Wacana Anti-Komunis dan Politik Rekonsiliasi Pasca-Soeharto. Jakarta: Elsam, 2004.
El Firdausy, Syarifah Wardah. “Hakikat Tuhan: Kajian Pemikiran Islam dalam Falsafah Jawa.” SHAHIH: Journal of Islamicate Multidisciplinary 2, no. 1 (Juni 2017): 97–112. https://doi.org/10.22515/shahih.v2i1.684.
Elika, Elmaghfira P., Risna Resnawaty, dan Arie S. Gutama. “Bencana Sosial Kasus Lumpur PT. Lapindo Brantas Sidoarjo, Jawa Timur.” Jurnal Penelitian & PKM 4, no. 2 (2017): 205–16.
Fowler, Bridget. The Obituary as Collective Memory. London: Routledge, 2007. https://doi.org/10.4324/9780203015964.
Halbwachs, Maurice. On Collective Memory. Disunting oleh Lewis A. Coser. Chicago: University of Chicago Press, 1992.
———. “The Collective Memory.” Dalam The Collective Memory Reader, disunting oleh Jeffrey K. Olick, Vered Vinitzky-Seroussi, dan Daniel Levy, 139–49. New York: Oxford University Press, 2011.
Hirsch, Marianne. “The Generation of Postmemory.” Poetics Today 29, no. 1 (Maret 2008): 103–28. https://doi.org/10.1215/03335372-2007-019.
Ikhlas, Muhammad Zaitul, Liza Husnita, dan Zulfa. “Memori Kolektif Masyarakat dalam Peristiwa Gempa 2009 di Kota Padang (Studi Kasus Kecamatan Padang Barat). ” Puteri Hijau: Jurnal Pendidikan Sejarah 7, no. 1 (Januari 2022): 85–97. https://doi.org/10.24114/ph.v7i1.34595.
Mohtar, O. “Batavia’s 1699 and 1780 Earthquake: Disaster Collective Memory.” Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat 4, no. 1 (2021): 74–82.
Mudhoffir, Abdil Mughis. “Berebut Kebenaran: Governmentality pada Kasus Lumpur Lapindo.” Master Thesis, Universitas Indonesia, 2008.
Nilawati, Azizah. “Gupak Pulute Ora Mangan Nangkane: Peran Para Agen Dan Hubungan Kekuasaan Korban Lumpur (Lapindo) Di Besuki Timur, Jabon, Sidoarjo.” Master Thesis, Universitas Gadjah Mada, 2013.
Novenanto, Anton. “Dampak Sosial-Ekonomi Pemindahan Paksa: Studi Atas Penyintas Lumpur Lapindo, Jawa Timur.” Jurnal Masyarakat & Budaya 21, no. 3 (2019): 293–316.
Novenanto, Anton, Lutfi Amiruddin, dan Daris Ilma. “Pemanfaatan Sanggar Alfaz Sebagai Strategi Pemuda Besuki Timur Mengatasi Bencana Industri Lumpur Lapindo.” Jurnal Studi Pemuda 2, no. 1 (Juni 2016): 28. https://doi.org/10.22146/studipemudaugm.32054.
Novenanto, Anton, dan I. Wayan Suyadnya. “Muddied Memories as Vernacular Heritage of an Unnatural Disaster.” Dalam Resilience as Heritage in Asia, disunting oleh Michael Herzfeld dan Rita Padawangi, 179–201. London: Routledge, 2025. https://doi.org/10.5117/9789463728560_CH08.
Rukmana, Siti Nuurlaily, dan Moch. Shofwan. “Dampak Risiko Secondary Hazard di sekitar Bencana Lumpur Lapindo terhadap Perubahan Lingkungan.” Jurnal Pembangunan Wilayah & Kota 14, no. 4 (2018): 295–306. https://doi.org/10.14710/pwk.v14i4.20345.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Muhammad Fahmi Nurcahyo (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.


