Sebuah Tempat Bernama Alfaz: Memori Kolektif Masa Kecil Penyintas Bencana Lumpur Lapindo

Authors

DOI:

https://doi.org/10.24071/ret.v14i1.628

Keywords:

masa kecil, memori kolektif, postmemory, lumpur Lapindo

Abstract

Tulisan ini secara garis besar berusaha melihat secara dalam praktik mengingat para penyintas lumpur lapindo pasca pindah dari desa asalnya. Mengambil fokus pada arek-arek Alfaz, kelompok penyintas bencana lumpur Lapindo dan ingatan masa kecil mereka tentang kampung asal—Desa Besuki Timur—yang dulu terpaksa ditinggalkan akibat terdampak bencana. Lebih jauh lagi, tulisan ini bermaksud melihat bagaimana cara mereka mengenang masa lalu dan kaitannya dengan proses hidup di masa kini. Kepingan-kepingan ingatan dikumpulkan melalui wawancara langsung terhadap enam partisipan dan kemudian dianalisis menggunakan pisau memori koleltif Halbwachs. Hasil analisis menunjukkan, meskipun menjadi bagian dari kelompok penyintas lumpur Lapindo yang lebih besar, arek-arek Alfaz memiliki kekhasan dalam praktik memori mereka. Pengalaman saat di Sanggar Alfaz menjadi memori kolektif tentang kampung halaman serta bencana yang menghancurkannya. Memori terkait Sanggar Alfaz dan Besuki Timur lebih kuat ketimbang memori tentang bencana yang terjadi. Selain itu, Sanggar Alfaz juga menjadi ruang dimana ingatan-ingatan tentang kampung Besuki Timur diwariskan dan dikonstruksikan oleh generasi terdahulu.

Downloads

Published

06/30/2026

How to Cite

Nurcahyo, Muhammad Fahmi. 2026. “Sebuah Tempat Bernama Alfaz: Memori Kolektif Masa Kecil Penyintas Bencana Lumpur Lapindo”. Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora 14 (1): 53-74. https://doi.org/10.24071/ret.v14i1.628.